LEMAHABANG WADAS, RAKA- Selama 9 hari, tim penjaringan bakal calon (balon) ketua Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) Gemalembayung Lemahabang, telah mengantongi 4 orang yang akan bersaing dalam pemilihan yang belum ditentukan waktunya. Keempat orang tersebut yang masuk daftar ke meja Tim Lima yaitu Surya Sakti, H Nana, Muhyidin dan Karsim SH. Namun beredar kabar, salah satu balon yaitu Karsim, gugur dalam pendaftaran lantaran masih beridentitas warga Turi, Kecamatan Cilebar dari syarat domisili. Diperkirakan, hanya 3 balon yang akan ikuti tahap verifikasi sampai dengan uji kelayakanya.
Ketua Tim Lima, H Ahmad Satibi mengatakan, penutupan pendaftaran balon ketua UPK berlangsung pukul 00.00 malam, dari sebelumnya menggelar penjaringan selama 9 hari dari 18 Februari sampai 27 Februari. Pihaknya menerima 4 orang pendaftar, ke empat orang tersebut selain Surya Sakti dan H Nana, disusul Muhyidin dan Karsim SH. Sebelumnya, pasca penutupan pihaknya akan berembuk terlebih dahulu untuk persoalan berkas yang akan diverifikasi dan diuji kelayakanya oleh tim ahli. Sementara jadwal pemilihannya belum bisa ditentukan. "Kita tutup pendaftaran, dan baru bisa menjaring 4 orang selama 9 hari terakhir," katanya, kepada RAKA.
Sementara itu, nama yang disebut-sebut bakal maju dan absen dalam pendaftaran adalah Nandang Basyuni SE yang juga mantan Ketua BKAD UPK. Saat dimintai keterangan, Nandang mengaku enggan mencalonkan diri menjadi ketua UPK bukan lantaran jabatannya masih di Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Ia sempat menyayangkan ada pihak-pihak yang menganggap sebagai ketua PPK yang konon terikat pada lembaga pemerintah dan melanggar aturan jika mendaftar jadi ketua UPK, adalah pernyataan salah. Pasalnya, jikapun ia mencalonkan diri meskipun masih menjabat PPK, sama sekali tidak ada pelanggaran dan tidak mesti mundur di PPK, bahkan ketua UPK di Kecamatan Purwasari juga merangkap sebagai ketua UPK Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), karena tidak ada acuan atau larangan baik dalam Peraturan Organisasi (PTO) PNPM maupun perundang-undangan di PPK. "Nampaknya enggak nyalon saya mah, tapi lihat saja nanti lah," kelitnya. (rud)
Jumat, 28 Februari 2014
Penanganan Jembatan Jatisari Lambat
- Selain Rusak, Juga Picu Kemacetan
TELAGASARI, RAKA- Terus rusaknya Jalan Syekh Quro yang menghubungkan Kecamatan Lemahabang-Telagasari atau Telagasari-Tempuran semakin menuai keluhan masyarakat maupun pengguna jalan. Pasalnya, jalanan yang semakin tergerus hujan picu kemacetan semakin parah. Disisi lain, pemkab dianggap terlalu lama berdiam diri hanya untuk merespon keluhan warga tersebut.
"Kami atas warga Telagasari menyesalkan pihak Pemkab Karawang yang kurang respon kondisi jalan rusak parah di jalur Telagasari-Lemahabang dibiarkan, utamanya di titik jembatan Telagasari ini," kata Ocep, warga Desa Pasirtalaga, Kecamatan Telagasari, kepada RAKA.
Akibat dari kondisi tersebut, lanjut Ocep, selain hampir setiap hari terjadi kemacetan di jam-jam tertentu, juga banyak pengguna jalan yang terjatuh. Pasalnya, setiap pagi dan siang hingga sore saat banyak warga pulang kerja, kemacetan bisa mencapai 2 kilometer. Keadaan tersebut, tambahnya, dipicu oleh rusaknya jalan disepanjang 300 meter khusus di area Pasar Telagasari, karena kondisi jembatan sudah tidak lagi sepadan dengan arus lalu lintas tinggi di lajur utama Telagasari-Lemahabang.
Menurut hemat Ocep, kondisi rusak jalan dan sempitnya jembatan Telagasari merupakan pemicu utama kemacetan dan kecelakaan di lokasi. Karenanya ia mendesak pemerintah daerah untuk segera menindaklanjuti kondisi tersebut, apalagi setidaknya di Kecamatan Telagasari yang masih punya 3 anggota DPRD untuk tidak tinggal diam. "Ini jalan umum dan lajur utama, kalau terus dibiarkan kondisi jalan rusak maka makin terus korban berjatuhan," tukas Ocep.
Di tempat terpisah, Ketua Komisi C DPRD Karawang, Deden Irwan Rishadi saat dikonfirmasi mengatakan, jalan rusak dan sempitnya jembatan meminta perbaikan jalan tersebut segera dilakukan. Pihaknya bakal menegur Bina Marga dan secepatnya akan koordinasi dengan UPTD Bina Marga. Kondisi jalan rusak saat ini diakuinya, memang menjadi persoalan utama yang perlu ditindaklanjuti secepatnya. Untuk itu pula, secara berulang kali dirinya mendesak Bupati Karawang harus berani melakukan percepatan dengan segala upaya. "Sejak awal saya desak Bupati agar kiranya bertindak cepat, khusus soal penanganan jalan rusak," pungkasnya. (rud)
TELAGASARI, RAKA- Terus rusaknya Jalan Syekh Quro yang menghubungkan Kecamatan Lemahabang-Telagasari atau Telagasari-Tempuran semakin menuai keluhan masyarakat maupun pengguna jalan. Pasalnya, jalanan yang semakin tergerus hujan picu kemacetan semakin parah. Disisi lain, pemkab dianggap terlalu lama berdiam diri hanya untuk merespon keluhan warga tersebut.
"Kami atas warga Telagasari menyesalkan pihak Pemkab Karawang yang kurang respon kondisi jalan rusak parah di jalur Telagasari-Lemahabang dibiarkan, utamanya di titik jembatan Telagasari ini," kata Ocep, warga Desa Pasirtalaga, Kecamatan Telagasari, kepada RAKA.
Akibat dari kondisi tersebut, lanjut Ocep, selain hampir setiap hari terjadi kemacetan di jam-jam tertentu, juga banyak pengguna jalan yang terjatuh. Pasalnya, setiap pagi dan siang hingga sore saat banyak warga pulang kerja, kemacetan bisa mencapai 2 kilometer. Keadaan tersebut, tambahnya, dipicu oleh rusaknya jalan disepanjang 300 meter khusus di area Pasar Telagasari, karena kondisi jembatan sudah tidak lagi sepadan dengan arus lalu lintas tinggi di lajur utama Telagasari-Lemahabang.
Menurut hemat Ocep, kondisi rusak jalan dan sempitnya jembatan Telagasari merupakan pemicu utama kemacetan dan kecelakaan di lokasi. Karenanya ia mendesak pemerintah daerah untuk segera menindaklanjuti kondisi tersebut, apalagi setidaknya di Kecamatan Telagasari yang masih punya 3 anggota DPRD untuk tidak tinggal diam. "Ini jalan umum dan lajur utama, kalau terus dibiarkan kondisi jalan rusak maka makin terus korban berjatuhan," tukas Ocep.
Di tempat terpisah, Ketua Komisi C DPRD Karawang, Deden Irwan Rishadi saat dikonfirmasi mengatakan, jalan rusak dan sempitnya jembatan meminta perbaikan jalan tersebut segera dilakukan. Pihaknya bakal menegur Bina Marga dan secepatnya akan koordinasi dengan UPTD Bina Marga. Kondisi jalan rusak saat ini diakuinya, memang menjadi persoalan utama yang perlu ditindaklanjuti secepatnya. Untuk itu pula, secara berulang kali dirinya mendesak Bupati Karawang harus berani melakukan percepatan dengan segala upaya. "Sejak awal saya desak Bupati agar kiranya bertindak cepat, khusus soal penanganan jalan rusak," pungkasnya. (rud)
Tawuran Pelajar Bisa Diminimalisir
CILAMAYA KULON, RAKA- Tokoh pemuda Cilamaya Kulon, Muslim Hafidz, mengaku punya kepentingan dan kewajiban untuk urung rembuk dalam menjawab persoalan yang semakin marak terjadi di Karawang. Ia menilai, banyak variabel berkaitan dengan persoalan tawuran seperti kurang pedulinya antara sekolah dengan oknum siswa yang senang tawuran.
Sekolah atau tim pengajar lebih memprioritaskan anak-anak yang pintar secara akademik, namun tidak bagi anak-anak yang suka musik atau aktifitas lain, sehingga secara psikologis masih labilnya prilaku ego nampak. Oleh karena itu, pengajar dirasa penting untuk merangkul dan berdiskusi dengan siswa. Begitupun, lanjut pria yang akrab disapa Kang Ocim ini, sekolah harus menggunakan pendekatan psikologi pelajar tanpa jarak. "Sekolah kadang lebih care pada siswa pintar secara akademik, tapi tidak pada siswa yang pandai berekspresi," katanya, kepada RAKA, Kamis (27/2).
Pemerintah, lanjut Ocim, mempunyai andil dalam banyaknya tawuran, karena sekarang pemerintah sedikit menyediakan sarana anak muda atau ruang publik, seperti taman untuk berkreasi anak-anak muda. Sebagai contoh, keberadaan GOR Panatayuda hanya dijadikan tempat kaki lima yang tak terurus. Maka dalam hal ini, pemerintah harus merekayasa sosial dan jangan pernah alfa terhadap anak muda, karena pelajar adalah tunas generasi masa yang akan datang. Ditambahkannya, dewasa ini Ocim juga mengaku prihatin pada orang tua yang terkadang masa bodoh terhadap pendidikan anak. Pasalnya, orang tua dikiranya hanya cukup menyediakan duit saja, padahal tugas pokok orang tua tidak hanya itu, tetapi juga harus ikuti perkembangan zaman. Faktor-faktor itulah kebijakannya harus memberikan rasa nyaman bagi pelajar. "Pelajar harus diberikan rasa aman dalam berekspresi dan dirangkul sekolah dan orang tua," cetusnya. (rud)
Sekolah atau tim pengajar lebih memprioritaskan anak-anak yang pintar secara akademik, namun tidak bagi anak-anak yang suka musik atau aktifitas lain, sehingga secara psikologis masih labilnya prilaku ego nampak. Oleh karena itu, pengajar dirasa penting untuk merangkul dan berdiskusi dengan siswa. Begitupun, lanjut pria yang akrab disapa Kang Ocim ini, sekolah harus menggunakan pendekatan psikologi pelajar tanpa jarak. "Sekolah kadang lebih care pada siswa pintar secara akademik, tapi tidak pada siswa yang pandai berekspresi," katanya, kepada RAKA, Kamis (27/2).
Pemerintah, lanjut Ocim, mempunyai andil dalam banyaknya tawuran, karena sekarang pemerintah sedikit menyediakan sarana anak muda atau ruang publik, seperti taman untuk berkreasi anak-anak muda. Sebagai contoh, keberadaan GOR Panatayuda hanya dijadikan tempat kaki lima yang tak terurus. Maka dalam hal ini, pemerintah harus merekayasa sosial dan jangan pernah alfa terhadap anak muda, karena pelajar adalah tunas generasi masa yang akan datang. Ditambahkannya, dewasa ini Ocim juga mengaku prihatin pada orang tua yang terkadang masa bodoh terhadap pendidikan anak. Pasalnya, orang tua dikiranya hanya cukup menyediakan duit saja, padahal tugas pokok orang tua tidak hanya itu, tetapi juga harus ikuti perkembangan zaman. Faktor-faktor itulah kebijakannya harus memberikan rasa nyaman bagi pelajar. "Pelajar harus diberikan rasa aman dalam berekspresi dan dirangkul sekolah dan orang tua," cetusnya. (rud)
Mini Market Rusak Pedagang Kecil
TELAGASARI, RAKA- Menjamurnya minimarket di Kecamatan Telagasari dan Lemahabang, semakin tak terbendung. Pengusaha dengan modal besar diduga rela mencekoki oknum-oknum aparat untuk mengamankan sejumlah lingkungan sampai dengan pedagang kecil untuk menyetujui pembangunan mini market. Disisi lain tidak ada upaya tegas pemkab dalam memperketat dan selektif dalam pembangunanya, dipastikan keberadaan para pegadang kecil, tradisional dan pasar akan kian tercekik seiring peralihan pelanggan yang juga semakin melirik mini market.
"Apa sih yang kurang, 3 mini market sudah berdiri kokoh di Pasar Telagasari sekarang mau ditambah lagi, begitupun di Lemahabang dulu dilarang keberadaanya, hanya berselang setahun camatnya diganti sekarang sudah tembus sekitar 4 mini market baru," kata Pengurus PAC Gerakan Pemuda Ansor Telagasari, Subki Akbar, kepada RAKA.
Persoalan menjamurnya mini market, tambahnya, bukan semata soal persetujuan lingkungan, tapi ada biaya yang masuk ke kantong-kantong pejabat desa dan kecamatan bahkan oknum LSM. Sejumlah pedagang kecil hanya bisa pasrah dengan kondisi saat ini tanpa diperhatikan konsekuensi keberadaan mini market bagi mereka. Bahkan yang lebih parah, penegak perda yang seharusnya mengurusi perizinan disalip oleh oknum-oknum lainnya, karena modal segar yang dikeluarkan jelas menjadi rebutan dan bancakan oknum-oknum tersebut. Tradisi demikian akan terus berlangsung selama bupati hingga caleg saat ini tidak serius konsen perjuangkan persoalan ini. "Soal perizinan aja mudah, nanti kita khawatir mental-mental para pejabat dan masyarakat kita semakin ciut," pungkasnya. (rud)
"Apa sih yang kurang, 3 mini market sudah berdiri kokoh di Pasar Telagasari sekarang mau ditambah lagi, begitupun di Lemahabang dulu dilarang keberadaanya, hanya berselang setahun camatnya diganti sekarang sudah tembus sekitar 4 mini market baru," kata Pengurus PAC Gerakan Pemuda Ansor Telagasari, Subki Akbar, kepada RAKA.
Persoalan menjamurnya mini market, tambahnya, bukan semata soal persetujuan lingkungan, tapi ada biaya yang masuk ke kantong-kantong pejabat desa dan kecamatan bahkan oknum LSM. Sejumlah pedagang kecil hanya bisa pasrah dengan kondisi saat ini tanpa diperhatikan konsekuensi keberadaan mini market bagi mereka. Bahkan yang lebih parah, penegak perda yang seharusnya mengurusi perizinan disalip oleh oknum-oknum lainnya, karena modal segar yang dikeluarkan jelas menjadi rebutan dan bancakan oknum-oknum tersebut. Tradisi demikian akan terus berlangsung selama bupati hingga caleg saat ini tidak serius konsen perjuangkan persoalan ini. "Soal perizinan aja mudah, nanti kita khawatir mental-mental para pejabat dan masyarakat kita semakin ciut," pungkasnya. (rud)
Devi Ingin Jadi Programer Beretika
Perkembangan dunia teknologi yang semakin maju menjadi daya tarik tersendiri bagi dara manis asal Desa Pinayungan, Kecamatan Telukjambe Timur, Devi Supriyanti. Cewek yang akrab dipanggil Devi ini sudah lama menggeluti komputer hingga menjelajahi dunia maya.
"Aku ingin jadi programer, karena sudah sejak lama aku selalu mengulik komputer dan menjelajahi dunia maya. Ini dalam rangka mewujudkan cita-cita aku," ucap Devi, Rabu (26/2) kemarin.
Gadis yang sangat menjunjung tinggi norma dan etika, itu terdaftar di salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Karawang. Dengan semangatnya yang tinggi dia merasa optimis cita-cita yang diinginkannya bisa tercapai. "Ini impianku dari kecil, ya aku sih sangat ingin bisa meraih impian itu," terang Devi.
Menurut Devi, menghadapi perkembangan masa kini, harus bisa memanfaatkan peluang yang ada termasuk mengembangkan potensi yang dimiliki. "Aku gak mau kerja di PT (pabrik) yang penuh aturan dan penuh tekanan. Makanya dalam rangka mengambil peluang untuk tidak terjebak dalam dunia kerja, cita-cita aku ini harus terealisasi," ujarnya.
Cewek manis kelahiran 4 Desember 1995, itu juga ingin membuka lapangan kerja agar bisa memberi kontribusi positif kepada perkembangan daerah. "Kalau aku ahli dalam bidang programer, tentu bakal butuh bantuan orang lain. Dan secara otomatis aku membuka lapangan pekerjaan," pungkasnya. (zie)
"Aku ingin jadi programer, karena sudah sejak lama aku selalu mengulik komputer dan menjelajahi dunia maya. Ini dalam rangka mewujudkan cita-cita aku," ucap Devi, Rabu (26/2) kemarin.
Gadis yang sangat menjunjung tinggi norma dan etika, itu terdaftar di salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Karawang. Dengan semangatnya yang tinggi dia merasa optimis cita-cita yang diinginkannya bisa tercapai. "Ini impianku dari kecil, ya aku sih sangat ingin bisa meraih impian itu," terang Devi.
Menurut Devi, menghadapi perkembangan masa kini, harus bisa memanfaatkan peluang yang ada termasuk mengembangkan potensi yang dimiliki. "Aku gak mau kerja di PT (pabrik) yang penuh aturan dan penuh tekanan. Makanya dalam rangka mengambil peluang untuk tidak terjebak dalam dunia kerja, cita-cita aku ini harus terealisasi," ujarnya.
Cewek manis kelahiran 4 Desember 1995, itu juga ingin membuka lapangan kerja agar bisa memberi kontribusi positif kepada perkembangan daerah. "Kalau aku ahli dalam bidang programer, tentu bakal butuh bantuan orang lain. Dan secara otomatis aku membuka lapangan pekerjaan," pungkasnya. (zie)
Memilih Pemimpin Wajib Hukumnya
KARAWANG, RAKA - Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karawang, Edy Yusuf, memberikan pernyataan keras kepada warga yang tidak menggunakan hak pilihnya saat pemilu mendatang. Dia beranggapan, pemilih yang tidak menggunakan haknya telah berbuat zalim.
"Menurut aturan agama Islam, orang yang tidak menggunakan hak pilihnya untuk memilih pemimpin yang benar, berarti hukumnya zalim. Dan perbuatan zalim itu dalam agama sangat dilarang," ujar Edy, kepada RAKA di ruang kerjanya, baru-baru ini.
Dijelaskan Edy, kenapa orang yang tidak menggunakan hak pilihnya disebut zalim, karena bisa diartikan warga tersebut tidak mau menjadi makmum. Oleh karena itu, jika seseorang tidak mau menjadi makmum, maka orang tersebut tidak mau diatur oleh suatu aturan kehidupan, baik aturan rumah tangga ataupun bernegara. Edy juga menghimbau kepada masyarakat agar tidak memilih calon pemimpin karena uang. Karena jika sudah berbau uang maka negara akan hancur, sebab dipimpin oleh pemimpin zalim. "Seorang pemimpin zalim adalah kesalahan masyarakat sendiri, karena sudah memilih pemimpin tersebut hanya berdasarkan uang atau materi (sogok) saja, dan tidak berdasarkan ilmu agama," ungkapnya.
Edy melanjutkan, penyamaan orang yang tidak menggunakan hak pilihnya secara benar dalam berpolitik dengan prilaku zalim, lantaran yang bersangkutan telah dengan sengaja membiarkan negaranya hancur, tanpa ada tindakan untuk merubahnya dengan memilih orang yang dianggap amanah. "Golput bukan solusi untuk merubah negara ini ke arah yang lebih baik. Golput sama juga dengan kita membiarkan keburukan terjadi, dan menghambat kebaikan yang akan datang melalui individu amanah," pungkas Edy. (cr2)
"Menurut aturan agama Islam, orang yang tidak menggunakan hak pilihnya untuk memilih pemimpin yang benar, berarti hukumnya zalim. Dan perbuatan zalim itu dalam agama sangat dilarang," ujar Edy, kepada RAKA di ruang kerjanya, baru-baru ini.
Dijelaskan Edy, kenapa orang yang tidak menggunakan hak pilihnya disebut zalim, karena bisa diartikan warga tersebut tidak mau menjadi makmum. Oleh karena itu, jika seseorang tidak mau menjadi makmum, maka orang tersebut tidak mau diatur oleh suatu aturan kehidupan, baik aturan rumah tangga ataupun bernegara. Edy juga menghimbau kepada masyarakat agar tidak memilih calon pemimpin karena uang. Karena jika sudah berbau uang maka negara akan hancur, sebab dipimpin oleh pemimpin zalim. "Seorang pemimpin zalim adalah kesalahan masyarakat sendiri, karena sudah memilih pemimpin tersebut hanya berdasarkan uang atau materi (sogok) saja, dan tidak berdasarkan ilmu agama," ungkapnya.
Edy melanjutkan, penyamaan orang yang tidak menggunakan hak pilihnya secara benar dalam berpolitik dengan prilaku zalim, lantaran yang bersangkutan telah dengan sengaja membiarkan negaranya hancur, tanpa ada tindakan untuk merubahnya dengan memilih orang yang dianggap amanah. "Golput bukan solusi untuk merubah negara ini ke arah yang lebih baik. Golput sama juga dengan kita membiarkan keburukan terjadi, dan menghambat kebaikan yang akan datang melalui individu amanah," pungkas Edy. (cr2)
Doa Iringi Tim Futsal Karawang
-Hadapi Kualifikasi Porda
KARAWANG, RAKA - Tim Futsal Karawang yang akan mengikuti Pekan Olahraga Daerah (Porda) tanggal 28 Februari-2 Maret 2014, meminta doa kepada seluruh masyarakat Karawang agar lolos babak kualifikasi. Demikian dikatakan Manajer Futsal Karawang, Solehudin, saat menghadiri pengukuhan 15 pemain Tim Porda Futsal Karawang di Galuh Mas, Kamis (27/2) kemarin.
"Semoga dalam babak kualifikasi nanti bisa keluar menjadi juara grup. Kami minta doa dan dukungannya," tuturnya.
Persiapan teknis hingga mental sudah dilakukan, meski persiapan yang dilakukan terbilang singkat yaitu hanya satu bulan. "Kami memiliki para pemain yang loyal, memiliki skil, fisik, teknik yang bagus, serta kompak. Maka dari itu dalam menghadapi kualifikasi besok, saya sebagai pelatih tinggal memberikan motivasi serta sedikit arahan saja. Kami juga sudah menyetelkan pemain yang satu dengan pemain yang lainnya, itu semua disesuaikan dengan karakter masing-masing,� tutur Pelatih Futsal Karawang, Danny Hidayat.
Kapten tim, Iwan Ika Yudha, juga berharap pertandingan yang dilakoninya nanti menghadapi Kabupaten Sukabumi, Sumedang, dan Bandung Barat, bisa diiringi dengan doa seluruh masyarakat Karawang. "Kebersamaan yang dibangun oleh para pemain menjadi kekuatan utama yang dimiliki, meski tidak banyak yang kami persiapkan dalam menghadapi pertandingan kualifikasi besok. Hanya doa dan menjaga kesehatan saja. Kami yakin bisa melewati babak kualifikasi besok, dengan hasil yang sangat membahagiakan yaitu lolos sebagai juara grup," tuturnya.
Adapun ke-15 pemain tersebut adalah Restu Cipta Kurnia, Rangga Maudi Nurzaman, Tria Septiawan, Iwan Ika Yudha, Purnomo, Dimas Mahardika, Ricfha Iswara, Iyan Agustian, Lucky Arif Rinjani, Yudi Nur Prasetyo, Rio Aditya, Mohammad Devin Abdi, Restu Pradana, Ahmad Maulana Yusuf, Serta Muhammad Taufik. (cr2)
KARAWANG, RAKA - Tim Futsal Karawang yang akan mengikuti Pekan Olahraga Daerah (Porda) tanggal 28 Februari-2 Maret 2014, meminta doa kepada seluruh masyarakat Karawang agar lolos babak kualifikasi. Demikian dikatakan Manajer Futsal Karawang, Solehudin, saat menghadiri pengukuhan 15 pemain Tim Porda Futsal Karawang di Galuh Mas, Kamis (27/2) kemarin.
"Semoga dalam babak kualifikasi nanti bisa keluar menjadi juara grup. Kami minta doa dan dukungannya," tuturnya.
Persiapan teknis hingga mental sudah dilakukan, meski persiapan yang dilakukan terbilang singkat yaitu hanya satu bulan. "Kami memiliki para pemain yang loyal, memiliki skil, fisik, teknik yang bagus, serta kompak. Maka dari itu dalam menghadapi kualifikasi besok, saya sebagai pelatih tinggal memberikan motivasi serta sedikit arahan saja. Kami juga sudah menyetelkan pemain yang satu dengan pemain yang lainnya, itu semua disesuaikan dengan karakter masing-masing,� tutur Pelatih Futsal Karawang, Danny Hidayat.
Kapten tim, Iwan Ika Yudha, juga berharap pertandingan yang dilakoninya nanti menghadapi Kabupaten Sukabumi, Sumedang, dan Bandung Barat, bisa diiringi dengan doa seluruh masyarakat Karawang. "Kebersamaan yang dibangun oleh para pemain menjadi kekuatan utama yang dimiliki, meski tidak banyak yang kami persiapkan dalam menghadapi pertandingan kualifikasi besok. Hanya doa dan menjaga kesehatan saja. Kami yakin bisa melewati babak kualifikasi besok, dengan hasil yang sangat membahagiakan yaitu lolos sebagai juara grup," tuturnya.
Adapun ke-15 pemain tersebut adalah Restu Cipta Kurnia, Rangga Maudi Nurzaman, Tria Septiawan, Iwan Ika Yudha, Purnomo, Dimas Mahardika, Ricfha Iswara, Iyan Agustian, Lucky Arif Rinjani, Yudi Nur Prasetyo, Rio Aditya, Mohammad Devin Abdi, Restu Pradana, Ahmad Maulana Yusuf, Serta Muhammad Taufik. (cr2)
Langganan:
Postingan (Atom)



